Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

JOHANNES “BONES” FRANSISCUS

(Kumpulan Artikel)

Halaman 1 | Halaman 2

 

Satu Lagi Petinju Pro Meninggal

Reporter : Yusuf Irawan

  detiksport - Jakarta, Dunia tinju profesional Indonesia kembali berduka. Usai bertanding, petinju Yohanes Franciscus dilarikan ke Rumah Sakit Graha Medika, Jakarta. Ia meninggal dunia meski telah mendapat perawatan medis.

Menurut keterangan dari staff Rumah Sakit Graha Medika, Saroji, yang dihubungi detikcom, Jumat (7/2/2003), Yohanes meninggal sekitar pukul 19.00 WIB. Ia meninggal karena trauma di kepala akibat pukulan lawan usai bertanding.

Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit setelah mengeluh sakit di bagian belakang kepalanya. Cedera tersebut terjadi setelah bertanding melawan petinju Jember, Slamet Nizar, di acara gelar tinju Sabuk Emas RCTI, Selasa malam lalu.

Yohanes dipukul KO pada ronde ketujuh oleh Slamet Nizar. Ia turun di kelas terbang junior dalam pertarungan non gelar. Petinju berusia 19 tahun tersebut berlatih di sasana Serambu Boxing Camp Bandung.

Selama mendapat perawatan di rumah sakit, ia mengalami koma hingga akhirnya maut menjemputnya. Jenazah almarhum telah diambil pihak keluarga yang diwakili manajer Yohanes, Sudirman Darius, sekitar pukul 22.00 WIB. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dengan meninggalnya Yohanes, maka telah bertambah jumlah petinju profesional yang meninggal dunia karena bertanding di atas ring. Petinju lain yang lebih dahulu menjadi korban diantaranya adalah petinju asal Bandung, Moh Alfaridzi, usai bertanding melawan petinju Thailand. (ysf) (detik.com – 7/2/03)

----

Satu Lagi Petinju Pro Tewas Setelah Bertanding

 


Jakarta, Kamis

 

Petinju Sasana Serambu Bandung, Bones Franciscus akhirnya meninggal dunia di RS Graha Medika, Kamis (6/2) pukul 19.00. Bones Fransiscus dipukul KO ronde ketujuh oleh lawannya, Slamet Nizar, dalam acara Sabuk Emas yang diselenggarakan stasiun televisi RCTI, Rabu (5/2) dini hari. Hingga meninggal dunia ia mengalami koma di RS Graha Medika.

 

Dokter ring, Dr Tommy Hallauwet, saat itu menyatakan bahwa Bones menderita cedera otak akibat pukulan lawannya. "Hasil pemeriksaan sinar menunjukkan hal itu," katanya.

 

 
Petinju dari Sasana Serambu Bandung ini turun di kelas terbang junior dalam pertarungan non gelar.

 

Kematian Bones menambah deretan petinju profesional yang meninggal dunia karena cedera di atas ring.  Beberapa waktu lalu, seorang petinju asal Bandung lainnya, Moh Alfaridzi meninggal dunia setelah dipukul KO oleh petinju Thailand.

 

Tinju profesional di Indonesia sempat dilarang pada masa pemerintahan Orde Lama. Ia baru bergairah lagi pada 1970-an, meski dengan frekuensi pertandingan yang tak terlalu banyak. Petinju pro yang tewas setelah bertanding pun sangat sedikit seperti Aceng Jim (1979) dan Bongguk Kendy pada 1980-an.

 

Namun sejak lima tahun terkahir petinju pro menjadi semakin marak setelah menjadi satu program acara televisi swasta. Saat ini saja tiga stasiun televisi swasta yaitu RCTI, Indosiar dan SCTV menjadikan acara pertandingan tinju pro ini sebagai acara mingguan. Petinju yang bertanding pun amat beragam dari pemula hingga petinju-petinju berpengalaman dari Filipina dan Thailand.

 

Promotor tinju Boy Bolang melihat tingginya frekuensi pertandingan tinju pro dapat  mengakibatkan ekploatasi para petinju. "Petinju kadang dipaksa untuk tampil, meski  mereka sendiri tidak siap," kata Boy. (Cay) – Kompas On Line (6/2/03)

 

---

 

 Boxer Dies After Knockout!

 

Yohanes Fransiscus, knocked unconsicious in a nontitle junior flyweight boxing bout on Tuesday, died on Thursday at 6:55 PM at Graha Medika hospital, according to Antara. The 19-year-old from Bandung Boxing Camp was knocked out by Slamet Nizar in the seventh round of the eight-round fight. He did not recover unconsciousness and died from a cerebral hemorrhage. (Jakarta Post, Friday, Feb. 7, 2003)

 

www.thejakartapost.com

 

---

Friday, February  7, 2003. Posted: 15:29:07 (AEDT)

Another Indonesian boxer dies after fight

A young Indonesian boxer has died two days after being knocked out in a fight, adding to an alarming death toll from the sport in the country.

Yohanes Fransiscus, 20, died in hospital of a brain haemorrhage on Thursday night after being unconscious for two days, Friday's Koran Tempo daily said.

Fransiscus lost by a technical knock-out to another Indonesian boxer, Slamet Nizar, in a junior flyweight bout broadcast live by local television on Tuesday night.

In 2001 three Indonesian boxers died within eight months and 13 boxers have died after fights since 1984.

The World Boxing Council (WBC) has expressed concern over poorly organised contests in Indonesia, resulting in a high number of post-fight deaths. In 2001 it imposed a six-month ban on Indonesia.

Ring organisers have been blamed particularly for negligence in following medical regulations.

Boxing is one of the most popular sports among Indonesia's 212 million people. Fights are televised and attract millions of TV viewers.

---

 

Fransiscus passes away!

February 7, 2003

By Jeff Pamungkas

Indonesian junior flyweight Johannes "Bones" Fransiscus, comatose from brain injuries suffered in a boxing match, finally died after being hospitalized at Graha Medika Hospital in Jakarta, Indonesia. Franciscus expired on Thursday night around 7:00 pm local time. The poor boxer had been hospitalized since February 4 after falling unconscious following his TKO loss in round seven against fellow Indonesian Slamet Nizar in a tough fight. Nizar's last punch, a powerful right hook to the head just a few seconds before round seven finished, is suspected as the cause of Fransiscus' death. Dr. Tommy Halauwet, the ring doctor who checked Fransiscus' condition during the break, advised the referee to stop the fight immeidiately. The referee complied but Fransiscus soon collapsed and was brought directly to the Graha Medika Hospital, located very close to the fight arena. The nineteen year old Fransiscus suffered from severe bleeding on his brain, and the doctors could not save his life.

During 2001-2002, Indonesia was banned by the WBC after a string of boxing deaths. The WBC later cancelled the punishment to Indonesia, after receiving guarantees of improved safety from the Indonesian government by the end of 2002. Johannes "Bones" Fransiscus, 19 years, ended his career with the record of 8-1 (6 KO's). His first loss came in his last fight ended both his career and life. Fightnews.com passes its condolences along to Franciscus’ family and hopes that conditions in Indonesia will improve for boxers.

Fransiscus is the eighteenth warrior to die in the ring in Indonesian boxing history. Below is the complete list of the Indonesian boxers who died in the ring since 1948:

Indonesian boxing deaths, 1948-2003

1. 1948: Jimmy Koko (opponent: Meyer)
2. 1950: Rocky Wang (opponent: Suatman)
3. 1959: Robby Pav (opponent: M. Yali)
4. 1961: Sarono (opponent: Tan Hwa Soei)
5. 1978: Atjeng Jim (opponent: Kai Siong)
6. 1984: Domo Hutabarat (opponent not recorded)
7. 1987: Agus Souissa (opponent: Michael Arthur)
8. 1988: Wahab Bahari (opponent not recorded)
9. 1988: Suryanto (opponent: John Bonnex)
10. 1990: Bongguk Kendy (opponent: Bisenti Santoso)
11. 1993: Yance Samangun (opponent: Mahmud)
12. 1995: Akbar Maulana (opponent: Bugiarso)
13. 2000: Dipo Saloko (opponent: Roy Saragih)
14. 2000: Bayu Young Iray (opponent: Herianto Kalam)
15. 2001: John Namtilu (opponent: Hasan Purba)
16. 2001: Muhammad Alfaridzi (opponent: Kongthawat Ora)
17. 2001: Donny Maramis (opponent: Stenly Kalalo)
18. 2003: Johannes Fransiscus (opponent: Slamet Nizar)

 

 

 www.fightnews.com

 

 

 

---

 

KTI Harus Benahi Perangkatnya

Ketika wasit membuka kacamatanya, Yohanes "Bones" Franciscus tampil sebagai petinju dengan gaya fighter sejati, memburu lawannya, Slamet Mizar, yang bergaya counter boxer. Prima sekali kondisi Yohanes. Denyut nadinya ketika diukur dokter 40 detak dalam satu menit. Kondisi seperti itu pula yang membuatnya gencar menyerang dari jarak dekat dengan segala kekuatannya.

Yohanes sempat memukul jatuh Slamet pada ronde kedua. Tetapi, wasit tidak melihatnya dan tidak memberikan hitungan kepada Slamet. Pada ronde ketiga, terjadi serangan beruntun yang dilakukan Slamet. Tidak kurang selama 20 detik, Slamet menghajar Yohanes yang tersandar di tali ring.

Tangan Yohanes sudah tidak melindungi kepala maupun badannya. Tidak ada serangan lagi dari petinju yang berpayung kepada sasana tinju Serambu Bandung itu. Kondisi Yohanes sudah benar-benar payah. Belasan pukulan menghantam kepala Yohanes yang sudah tidak berdaya lagi. Namun, wasit Temuzin Rambing sama sekali tidak menghentikan penyiksaan itu.

Pertandingan terus berlangsung dan secara taktis Slamet bisa menjinakkan tekanan serangan Yohanes dengan menunduk dan sesekali merangkul lawannya itu. Balasan serangan Slamet terlihat amat mudah menghajar kepala Yohanes dan bahkan sering pukulan hook Slamet menghajar bagian belakang kepala Yohanes. Namun, pukulan yang melanggar aturan tersebut sama sekali tidak memperoleh peringatan dari wasit.

Pada ronde keenam terjadi luka pada alis mata Yohanes. Setelah mendapat pemeriksaan dari dokter, penampilan Yohanes justru menjadi lebih beringas. Dia menekan sambil membangun serangan jarak dekat dengan pertahanan yang terbuka dan sesekali pukulan balasan Slamet menghajar kepala Yohanes.

Pada ronde ketujuh, kembali terjadi serangan berbahaya bagi Yohanes. Hook kanan Slamet menghajar kepala petinju berdarah Ambon tersebut. Dalam keadaan gontai, Yohanes menerima begitu banyak pukulan Slamet. Tertolong oleh bunyi lonceng. Yohanes dipapah pelatihnya untuk kembali ke pojoknya. Langkah Yohanes semakin gontai.

Dokter langsung memeriksa Yohanes dan menyatakan petinju itu tidak laik untuk melanjutkan pertandingannya.

WASIT ketika memimpin pertandingan tidak memperbolehkan ada yang membawa benda keras, apakah itu ikat pinggang, pulpen, atau kacamata. Temuzin Rambing, yang biasanya berkaca mata jika menjadi hakim atau dalam hidup kesehariannya, diharuskan membuka kacamatanya.

Bisa dibayangkan Temuzin yang tanpa kacamata harus memperhatikan pukulan-pukulan beruntun yang amat cepat. Tidak satu pun dari sekitar 12 pukulan Slamet yang menghajar bagian belakang kepala Yohanes ditegurnya. Kondisi Yohanes yang ternyata payah pada ronde ketiga dan ronde ketujuh tidak bisa diantisipasinya.

Sebagai seorang wasit, dia seharusnya jeli dan menghentikan pertandingan pada ronde ketiga, saat pertahanan Yohanes sudah tidak ada lagi. Dia juga harus jeli melihat bahwa Yohanes tidak bisa melakukan serangan lagi.

Atau pada kejadian di ronde ketujuh saat Yohanes dalam keadaan amat gontai. Justru dokter yang memutuskan untuk menghentikan pertandingan karena melihat pertandingan sudah tidak imbang lagi dan membahayakan jiwa Yohanes.

Temuzin Rambing yang biasanya memakai kacamata bisa lolos menjadi wasit adalah hal yang tidak logis karena secara kasatmata dia berkacamata. Padahal, untuk bertugas memimpin suatu pertandingan tinju, wasit tidak diperkenankan memakai kacamata.

Kesalahan besar ini harus menjadi pelajaran yang amat berharga bagi dunia tinju kita. Terutama, Komisi Tinju Indonesia (KTI) yang sudah membuat kesalahan fatal.

Kondisi fisik dan semangat bertanding Yohanes amat baik. Tetapi dari sisi lain, pertahanan Yohanes amat lemah. Hampir semua serangan Slamet tidak ada yang dihindarkannya dan semua pukulan lawannya bersarang dengan telak. Tidak ada kepala petinju yang kuat. Juga tidak kepala Mike Tyson, mantan jawara tinju dunia kelas berat asal Amerika Serikat (AS). Sebab, Mike Tyson juga bisa jatuh knock-out.

Kelemahan terbesar pelatih tinju adalah tidak mampu membenahi pertahanan petinjunya secara benar. Pada umumnya, mereka hanya mengajarkan bagaimana memukul dengan keras serta porsi latihan sebesar 90 persen.

Untuk kesemuanya itu, KTI harus membenahi perangkat yang bertugas untuk menyelamatkan masa depan petinju dan bukan asal-asalan. Tugas utama wasit adalah menyelamatkan nyawa petinju. Tanda-tanda petinju yang tidak berdaya adalah tangannya sudah tidak bisa melindungi dirinya menghadapi serangan lawan. Hal itu yang terlewatkan dalam penglihatan wasit.

Syamsul Anwar Harahap pengamat tinju

www.kompas.com

---

Isak Tangis Iringi Pemakaman Yohanes

Jakarta, Kompas - Meskipun keluarga besar petinju Yohanes Franciscus (19) berusaha tabah menerima musibah, suara isak tangis tetap tak tertahankan saat upacara pemakaman berlangsung di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta, Jumat (7/2) sekitar pukul 15.00. Sekalipun suasana duka menyelimuti di kuburan, tetapi tebersit pula pujian dan rasa bangga atas prestasi Yohanes yang baru seumur jagung mencicipi ring tinju profesional di Tanah Air. Dia tercatat menggeluti olahraga keras ini dalam masa yang cukup pendek, yakni tujuh tahun.

Hadir dalam pemakaman tersebut antara lain Ketua Komisi Tinju Indonesia (KTI) Pusat Anton Sihombing dan promotor tinju Herry "Aseng" Sugiarto serta sejumlah tokoh olahraga tinju lainnya.

"Ini memang sudah risiko olahraga keras seperti tinju. Sebagai keluarga petinju, kami menyadari betul musibah yang menimpa Yohanes bisa terjadi sewaktu-waktu. Yohanes juga tahu, namun dia tetap mau melakukannya untuk keluarga," kata Dominggus, kakak tertua Yohanes yang juga petinju dan pelatih.

Yohanes, ujar Dominggus, sebenarnya petinju berbakat karena dia disiplin dan patuh menjalankan latihan. Sejak tahun lalu, dia bergabung dengan Sasana Tinju Serambu Boxing Camp Bandung. Dari delapan kali naik ring, petinju berdarah Ambon itu mencatat prestasi enam kali menang KO dan satu kali menang angka. Terakhir, kalah KO saat dia berlaga di kelas terbang yunior dalam pertandingan eliminasi di layar kaca RCTI melawan Slamet Nizar dari Jember (Jatim), Selasa lalu, yang mengantarnya ke liang lahat menyusul cedera berdarah di belakang kepalanya.

Ketua KTI Anton Sihombing usai kebaktian pelepasan jenazah Yohanes di rumah duka mengatakan, dunia tinju berduka atas kehilangan petinju muda berbakat. Menurut dia, kejadian ini sungguh di luar dugaan, sebab semua aturan sudah dijalankan, termasuk pemilihan wasit. "Pemilihan wasit sudah dilakukan sesuai aturan. Kami menempatkan wasit baru itu di pertandingan eliminasi, bukan kejuaraan. Jadi, tahapannya sudah benar," ujarnya.

KTI, kata Sihombing, tetap akan melakukan evaluasi mengenai hal ini, terutama untuk berbenah diri agar makin sigap dan makin mengetatkan peraturan yang melindungi keselamatan petinju. "Kami akan mengevaluasi. Tetapi, saya tegaskan, seluruh aturan sudah berjalan dengan baik selama pertandingan," kata Sihombing yang turut menyaksikan langsung pertandingan tersebut.

Menurut Sihombing, musibah ini memacu KTI untuk menerapkan aturan yang terbaik dalam pertandingan tinju. KTI juga sudah menyosialisasikan peraturan baru yang dikeluarkan World Boxing Council (WBC) dan World Boxing Association (WBA) mengenai tugas dan perekrutan wasit hakim. Termasuk pula bahwa dokter berhak mengeluarkan kartu merah jika kondisi petinju tidak laik tanding.

Sementara itu, promotor tinju Aseng menyayangkan kenapa untuk pertandingan tinju delapan ronde yang disiarkan langsung televisi, KTI justru menurunkan wasit yang belum berpengalaman.

"Saya tidak menyalahkan KTI. Tapi, sangat disesalkan dalam pertandingan yang disiarkan langsung itu ditaruh wasit yang belum berpengalaman. Saya sudah cek, dia belum pernah pimpin pertandingan untuk delapan ronde," kata Aseng.

Menurut Aseng, pihaknya tidak melakukan upaya apa pun terhadap KTI. Namun, untuk mengantisipasi hal serupa, pihaknya meminta dengan sungguh-sungguh agar KTI menugaskan wasit sesuai dengan kelas pertandingan.

"Peran wasit itu penting untuk mengontrol jalannya pertandingan. Di ronde ketiga, saat Yohanes terkena pukulan, seharusnya wasit menghentikan pertandingan. Mungkin grogi karena pertama naik ring, wasit tidak melakukannya," kata Aseng.

Sebagai promotor, Aseng melaksanakan tanggung jawab moral dengan memberi santunan dari kocek pribadi Rp 40 juta dan asuransi sebesar Rp 15 juta yang belum cair.

Manajer Yohanes, Sudirman Darius, menyatakan, dalam waktu dekat ini, ia akan meminta penjelasan langsung kepada KTI mengenai wasit Temusin Rambing yang memimpin jalannya pertandingan. Ia menilai, saat pertandingan sudah mengarah brutal, wasit tidak menjalankan fungsinya dengan baik.

Dengan wafatnya Yohanes, sejak tahun 2000 sudah lima petinju muda yang meninggal, atau 17 petinju yang mengakhiri hidupnya di ring tinju sejak tahun 1947. (B13) Sumber: www.kompas.com

---

Mempertanyakan Temuzin

 

TRAGEDI yang menimpa Johanes 'Bones' Fransiscus dinilai kalangan tinju akibat kecerobohan KTI memilih wasit.

 

Temuzin Rambing (Jawa Tengah) dianggap belum pantas memimpin duel Bones-Slamet Nizar di Sabuk Emas RCTI, Selasa (4/2). Ia terlihat kaku, grogi, dan lambat bereaksi.

 

"Partai eliminasi  seharusnya dipimpin wasit berpengalaman. Saya heran kenapa KTI memilih Temuzin," ujar Vicky van Room, pelatih Sasana Inline Raya Jakarta.

 

M. Yunus, pelatih Sasana Akas Probolinggo, sependapat. "Saya belum pernah melihat Temuzin memimpin pertandingan. Tapi, ia tak bisa disalahkan.

 

Yang jadi masalah, kenapa ia ditunjuk KTI dan sudah mendapat lisensi B? Apakah ada KKN di KTI? Karena itu, KTI harus bertanggung jawab, khususnya inspektur pertandingan (IP) Ibrahim Ishaka," ucapnya.

 

"Ini bukti kecerobohan KTI. KTI asal menunjuk wasit tanpa melihat kualitas dan pengalaman. Kok, Temuzin begitu cepat diberi tugas jadi wasit?" tandas Abu Dhori, manajer/pelatih Dhori Gym Malang.

 

Yang mengherankan, Ibrahim mengakui baru kali pertama melihat Temuzin memimpin pertandingan. "Tapi, sebelumnya, ia sudah tiga kali jadi wasit," tuturnya.

 

Promotor Herry 'Aseng' Sugiarto sebenarnya sudah mengingatkan Ibrahim untuk tak memilih Temuzin. "Saya sampai geger-gegeran dengan Ibrahim.

 

 Nah, setelah kejadian begini, KTI harus bertanggung jawab," ungkap Aseng yang siap menanggung biaya perawatan Bones.

 

Ibrahim sendiri berjanji akan mengevaluasi rekaman duel itu. "Kami akan mengundang semua pihak terkait. Jika terdapat kesalahan Temuzin, ada sanksinya. Apakah akan diskors atau dipecat, lihat saja nanti," papar Ibrahim. . Rio/Tin (www.mediago.or.id, 7 Februari 2003)

 

---

 

Kasus Tewasnya Petinju Bones
Aseng: Wasit Masih Belajaran
Reporter : Irvan Beka

  detiksport - Jakarta, Promotor pertandingan tinju Sabuk Emas RCTI, Herry "Aseng" Sugiarto menuding wasit yang tidak becus sebagai penyebab tewasnya petinju Johanes "Bones" Fransiscus. Menurut Aseng, wasit Temuzin Rambing baru pertamakali memimpin pertandingan.

"Harusnya untuk partai delapan ronde apalagi disiarkan secara nasional menggunakan wasit yang berpengalaman. Saya sendiri sebelum pertandingan sudah cekcok dengan inpekstur pertandingan. Cuma karena siaran langsung tinggal beberapa lagi, pertandingan jalan terus," keluh Aseng yang ditemui di rumah duka di Gang buntu, RT 3 RW 10, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, Jumat (7/2/2003).

Aseng menyesalkan penggunaan wasit "belajaran" dalam pertandingan taraf nasional. "Pada ronde ketiga harusnya Johannes sudah mendapat hitungan bahkan pertandingan harusnya dihentikan," tegas Aseng.

Aseng sendiri mengaku menyumbang korban sebanyak Rp 40 juta dari kantong sendiri. Selain itu juga akan ada uang asuransi yang besarnya Rp 15 juta namun belum cair. Sumbangan lain datang dari RCTI sebesar Rp 25 juta.

Hal berbeda diungkapkan Ketua Umum KTI Pusat, Anton Sihombing yang membantah bahwa wasit sebagai penyebab tewasnya Johannes. "Memang banyak katanya...katanya...katanya. Tapi kritik tetap kami terima. Semua berjalan dengan tatanan wasit juga telah diberikan penataran-penataran," tegas Sihombing.

Menurut Sihombing yang menyaksikan pertandingan dari ring side, menyatakan wasit sudah menjalankan tugasnya dengan baik. "Ini kan pertandingan eliminasi, jadi saya taruh wasit yang masih baru. Tapi dia sudah melewati tahapan-tahapan yang benar," kata Anton.

Sihombing mengungkapkan setiap ada kejadian tewasnya petinju, KTI selalu menginginkan adalah kejadian terakhir. "Tapi olahraga tinju itu olahraga yang keras. Kita juga selalu menekankan bahwa dalam tinju keselamatan adalah hal utama," tambahnya.

Suasana duka terlihat rumah duka. Saudara-saudara Bones terlihat menangis tersedu-sedu.

Bones adalah petinju kesembilan yang tewas dalam 13 tahun terakhir di sejarah tinju nasional Indonesia. Para pendahulu Bones antara lain, Bongguk Kendy, Jance Samangun, Akbar Maulana, Dipo Saloko, Bayu Young Irai, John Namtilu, Mohammad Alfaridzi dan Donny Maramis.
(tis)

---

 

Triste Nota: El púgil índones minimosca Johannes "Huesos" Fransiscus, quien tenia días en estado de coma, falleció en el hospital de Graha Medika en Jakarta, Indonesia, el jueves en la noche a las 7:00 pm hora local. Fransiscus es el guerrero #18 en morir en el ring en Indonesia, en un país que incluso fue boicoteado por el CMB debido al exceso de muertes en el ring.—Jeff Pamungkas (www.boxeo.org)

---

Lihat Johannes Fransiscus - Halaman 2